Jual Mesin Jahit
Jual Mesin Jahit tulisan itu yang terpampang jelas di depan toko besar seberang jalan sana. Di sana ada salah seorang temanku yang menjadi CEO di tempat itu.
Jual Mesin Jahit
tulisan itu nampak meyakinkan dan sangat berwibawa. pikirku yang sedang berdiri di pinggir jalan, tokonya saja sudah keren begini, apalagi yang punya ya? Namanya Sastro, nama lengkapnya seingatku Sastro Wardono. Dia sahabat karibku semenjak SMA. Senang atau susah ditanggung bersama. Dulu kita juga teman 1 kost. Dia orang Jawa Tengah, orang Seragen tepatnya. Sedangkan aku orang Jawa Timur tepatnya dari Malang.
Toko yang ada di depanku ini terletak di Malang tepatnya di Jl. Sukarno Hatta. dari depan toko ini terlihat sempit tapi dalamnya sangat luas, aku pernah masuk ke toko yang
jual mesin jahit
ini beberapa kali. Sebetulnya di dalamnya tidak hanya menjual mesin jahit. ada mesin obras dan mesin pembuat kancing serta perlengkapan menjahit lainnya seperti jarum, benang dan lain-lain.
Aku sudah membuat janji dengan Sastro ini untuk bertemu di tokonya sekarang. Sepertinya dia sedang santai, aku melangkah masuk ke dalam tokonya. di sana ada banyak sekali pegawainya yang sibuk melayani pelanggan yang datang. aku sampai tidak bisa bertanya di mana Sastro sekarang. Untungnya ada salah satu pegawainya yang baik hati mau mengantarkanku bertemu dengannya di lantai paling atas. ada 3 lantai di gedung ini dan tidak ada lift.
Ketika sampai di lantai 3, jantungku rasanya seperti mau copot. nafasku terengah-engah dan pegawai yang mengantarku ini sepertinya sedang menertawakan tingkahku. Biar saja pikirku, siapa suruh punya kantor segini besarnya nggak dipasang lift?
ketika pegawai jangkung itu mengetuk pintu terdengar suara, “masuk.” dari balik pintu kayu bercat warna putih ini. Ketika aku dipersilahkan masuk, aku sedikit berdeham lalu mengatakan, “alhamdulillah, kawanku ini sudah jadi bos ya ternyata. hehehe.” Sastro yang sedari tadi memunggungiku dengan kursi mewah berbahan kulitnya mendadak berputar dengan sangat mempesona dan terkejut melihat sosokku yang kurus. “Akbar! hay! Masyaallah… apa kabarnya kamu!” Dia nyaris berteriak dan bangkit dari singgasananya. menghampiriku dan saling berpelukan.
Ini adalah pelukan pertamaku semenjak 6 tahun tak berjumpa dengannya. peluka terakhir yang kuterima ketika kelulusan di SMA karena dia harus kembali ke Jepara tempat tinggal kakeknya. Dia sangat berbeda dengan sosok Sastro yang dulu kukenal, kurus, nyaris botak dan berhidung mancung sekali. Sekarang badannya lebih berisi dan rambutnya tumbuh lebat. Berbeda denganku antara sekarang dan 6 tahun yang lalu tidak ada perubahan yang signifikan.
Aku disambutnya dengan hangat, diajaknya di lantai yang paling atas, ternyata dia di sana membuat tempat untuk bersantai yang menurutku cukup nyaman. dia menceritakan bisnisnya
jual mesin jahit
. usaha ini dirintisnya ketika kakeknya meninggal dan meninggalkan beberapa tokonya di Jawa dan Bali, yah dia memang anak konglomerat yang baik hati dan tidak sombong.
Ketika dia mengetahui aku ini pengangguran, dia berinisiatif untuk mengajakku bergabung dengan perusahaannya. Tentu saja aku sangat senang. tapi di sisi lain, aku khawatir nantinya akan ada masalah yang membuat hubunganku dan sahabatku ini pecah. Aku memintanya waktu beberapa hari untuk berpikir, sebetulnya aku ingin sekali mengiyakannya. Tapi aku harus benar-benar memikirkannya matang-matang sebelum semuanya terlanjur kusetujui untuk berjualan jual mesin jahit.
Cat : info mesin jahit, tags: jual mesin jahit